Zhang Junping Mengubah Bekas Pertambangan Gersang Jadi Pegunungan Hijau

MENJANGAN.ID – Kalau disebut bekas pertambangan’, pasti yang terlintas di benak kita adalah hamparan tanah yang gersang, rusak, dan kotor. Memang begitulah konsekuensi lingkungan yang musti ditanggung akibat adanya proses penambangan ketika sumber daya sudah tidak bisa lagi ditambang. Apalagi jika pihak penambang sudah tidak peduli dengan lahan bekas pertambangannya. Namun tidak demikian dengan bekas pertambangan di Taiyuan, China.

Perkembangan gerakan pelestarian lingkungan di China mengalami peningkatan beberapa tahun terakhir. Hal ini didukung penuh oleh pemerintah daerah yang kemudian menumbuhkan peran masyarakat untuk turut berperan serta. Di ibukota Taiyuan, Provinsi Shanxi, China bagian utara, seorang mantan pengusaha, Zhang Junping, telah mengeluarkan dana sekitar 600 juta yuan atau sekitar 1,3 triliun rupiah untuk mengubah lahan bekas tambang menjadi pegunungan hijau.

Zhang Junping | Foto: CGTN
Lereng gunung Yuquan | Foto: CGTN

Pada tahun 2009, Gunung Yuquan di Taiyuan sudah menjadi gundukan tanah yang kering, gersang, dan berbatu, sebab dirusak oleh penambangan skala besar. Zhang Junping memutuskan untuk memulihkan wilayah tersebut dengan mempekerjakan para penduduk lokal, menanam pohon dan menyelamatkan gunung itu. Setelah bertahun-tahun kerja keras, 4 juta pohon berhasil ditanam untuk menutup 8 juta meter persegi lahan di Gunung Yuquan. Pengairan yang dipakai menggunakan teknologi semprot yang terpasang di semua wilayah gunung tersebut.

Proses pengerukan gunung | Foto: CGTN
Sistem pengairan menggunakan drainase semprot | Foto: CGTN
Sistem pengairan menggunakan drainase semprot | Foto: CGTN

Selanjutnya, Zhang terus menginvestasikan dana untuk memperbaiki lebih banyak wilayah yang telah rusak di Gunung Yuquan. Tentu saja, memulihkan gunung yang sudah rusak agar bisa ditanami pohon bukan hal yang gampang dan bukan upaya yang murah. “Butuh tiga hingga empat bulan untuk memperbaiki lahan yang terlanjur rusak. Pertama kami harus meratakan tanahnya dulu, kedua kami harus menggali lubang di antara bebatuan itu, ketiga kami harus mengangkut tanah dan pupuk layak tanam, keempat baru kami bisa mulai menanam pohon,” kata Zhang sebagaimana dilansir CGTN.

Tahun 2018 ini, setelah proses pemulihan berjalan 9 tahun, Zhang telah menghijaukan sekitar 100 lereng pegunungan. Tinggan 70-80 lereng lagi yang akan digarap dalam waktu 5-6 tahun ke depan. Zhang sangat menikmati pekerjaannya untuk memulihkan pegunungan Yuquan. Dia bahkan tetap mengunjungi situs proyek penghijauan lereng-lereng gunung di sana meskipun kakinya patah. “Awalanya banyak yang tidak setuju dengan keputusan saya ini. Mereka tak percaya misi ini akan bisa berhasil. Tapi saya yakin, kalaupun saya tidak bisa menyelesaikannya, anak saya besok bisa melanjutkan! Jika anak saya tidak bisa, maka cucu saya bisa! Begitu seterusnya, yang penting kita jangan sampai menyerah!”

Gunung Yuquan sebelum dan sesudah penghijauan | Foto: CGTN
Gunung Yuquan sebelum dan sesudah penghijauan | Foto: CGTN

Bekas pertambangan ini akan menjadi Taman Kehutanan Gunung Yuquan dan diprediksi selesai dalam 5 tahun ke depan. Meskipun proyek pemulihan ini belum mendapat keuntungan materi apapun, serta belum bisa menutup modal besar yang telah dikeluarkan, Zhang mengaku puas dan tidak menyesal sama sekali. Dia mengatakan bahwa setiap pohon yang tumbuh bagai anaknya sendiri, serta menyaksikan pohon-pohon itu tumbuh adalah hal paling membahagiakan baginya di muka bumi.

Zhang Junping telah menunjukkan mentalitas pahlawan dan keikhlasan untuk terjun secara total melestarikan lingkungan. Namun tentu saja, wilayah Gunung Yuquan yang telah dipulihkan diharapkan bisa menghasilkan keuntungan lain yang bersifat materi maupun nonmateri di masa depan, terutama bagi anak cucunya kelak.

Pemandangan Gunung Yuquan sebelum dan sesudah penghijauan | Foto: CGTN

Lalu kira-kira bagaimana dengan para pengusaha dan konglomerat di Indonesia? Apakah mereka mau menginvestasikan hartanya untuk memulihkan alam yang terlanjur dirusak oleh perusahaan-perusahaan mereka? Mulai dari hutan yang gundul, sungai yang tercemar, hingga polusi udara dari asap pabrik mereka? Semoga saja sih mau ya. [Menjangan]

*Sumber: CGTN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *