Uncategorized

“Uang Hanya Ilusi,” kata Pria yang Hidup 15 Tahun Tanpa Uang Ini

MENJANGAN.ID – Daniel Suelo meninggalkan semua gemerlap kehidupan dunia pada tahun 2000. Uang terakhir yang dia miliki hanya $30, dihabiskan untuk menelepon di telepon umum. Selanjutnya ia mengembara di wilayah barat daya Amerika yang liar. Saat itulah, menurutnya, adalah awal kehidupannya dimulai.

Pria ini awalnya memiliki gelar master dalam bidang akuntansi dan karir yang menjanjikan. Namun pada 2000 dia mulai bereksperimen untuk hidup tanpa uang. Penulis biografinya, Mark Sundean, telah mengenal Daniel selama 20 tahun sebelum kawannya itu memutuskan mengembara serta meninggalkan uang dan peradaban. Awalnya ia mengira Daniel sudah gila atau stres.

“Dia bilang bahwa uang adalah ilusi, dia tak ingin percaya terhadap uang,” kata Mark. Ketika terjadi reses ekonomi di Amerika pada 2008 dan uang seakan-akan lenyap, Mark mulai berpikir bahwa apa yang dikatakan Daniel ada benarnya. Maka pada 2009, Mark mulai menulis kisah tentang Daniel.

Daniel hidup tanpa sepeserpun uang selama 15 tahun. Ia tak mau menggunakan uang, menerima uang, ataupun bantuan pemerintah. Bahkan dia tak mau melakukan barter ataupun bentuk perdagangan lainnya.

“Filosofiku adalah menggunakan apapun yang diberikan secara cuma-cuma, atau yang sudah dibuang. Masyarakat kita didesain agar terpaksa harus punya uang. Kau dipaksa untuk menjadi bagian dari sistem kapitalis, dan kau dilarang keluar darinya,” kata Daniel.

Selain meninggalkan uang, Daniel juga membuang paspor dan surat ijin mengemudinya. Nama belakangnya, Shellabarger, ia ganti menjadi Suelo yang berarti ‘tanah’ dalam bahasa Spanyol. Selama 15 tahun ia tinggal di kemah tengah gurun, di gua, atau di rumah-rumah orang asing.

Dia pernah tinggal di dalam gua sebuah tebing di Taman Nasional Arches Utah. Di sana ia mengukir batu sebagai ranjang, memungut untuk makan, minum dan mandi di sungai kecil. Jika dia sedang kekuar gua, dia tinggalkan secarik kertas untuk para pendaki bertuliskan; “Jangan ragu untuk berkemah di sini. Apapun punya ku adalah punyamu. Makan apa saja makananku. Bacalah buku-bukuku. Ambil saja jika kau memang mau.”

Di sana, ia makan mulberry dan bawang liar, rakun dan tupai yang mati di jalan, makanan-makanan masih bersih yang dibuang di tempat sampah, serta makanan yang dimasak oleh teman dan orang asing. Cara hidupnya ini mendapat kritik dari banyak pihak, bahwa Daniel hanya hidup berbekal ‘tumpangan gratis’ dari orang lain dan bahwa sistem kehidupan manusia akan runtuh jika semua orang hidup sepertinya. Menanggapi hal ini, Mark menyanggah dengan ironi, “Jika setiap orang terus hidup seperti cara hidup kebanyakan orang Amerika, maka dunia akan benar-benar runtuh lebih cepat!”

Musim panas lalu Suelo memutuskan untuk kembali ke ‘peradaban’, yakni di Fruita, Colorado untuk merawat orang tuanya yang sudah lanjut usia. Dia masih hidup tanpa uang, tetapi harus mengembalikan surat izin mengemudinya untuk mengantar mereka berkeliling. Dia mendirikan kemah di sungai terdekat agar tidak kehilangan kontak dengan ‘dunia nyata’, di mana dia masih hidup dengan mantranya untuk mengambil sesedikit mungkin dan memberi sebanyak yang dia bisa.

“Kita bisa memberi dan menerima secara cuma-cuma bagaimanapun kondisi kehidupan kita. Itulah fitrah alami kita, ada dalam diri semua orang. Alam liar di luar sana berlangsung dengan ‘ekonomi pemberian’, yakni bebas memberi dan bebas menerima, sehingga terciptalah keseimbangan. Sedangkan peradaban komersil berlangsung dengan kesadaran akan hutang dan bunga, tentang yang baik dan yang jahat, sehingga terjadi ketidakseimbangan. Coba sebutkan negara mana yang berhasil menyeimbangkan antara anggaran kebutuhannya dengan kelestarian lingkungannya? ‘Ekonomi pemberian’ berlandaskan pada rasa saling percaya, penghormatan, dan cinta kasih. Itu semua adalah inti dari segala agama. Alam liar adalah hakekat sejatimu, yang kemudian disalib oleh peradaban komersil,” kata Daniel Suelo.

Artikel Menjangan.ID

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *