Tanda-tanda Kecanduan Layar Gadget Pada Anak dan 5 Solusinya

MENJANGAN.ID – Ketika Anda jalan-jalan ke tempat umum atau kemanapun, coba perhatikan sekeliling. Jika Anda memang masih tinggal di muka bumi abad 21 ini, maka Anda akan melihat anak-anak kecil yang matanya terpaku ke layar gadget yang lebarnya hampir sama dengan mukanya.

Kita memang telah menyaksikan kecanggihan teknologi abad 21, khususnya gawai canggih (gadget) berupa ponsel pintar (smartphone) dan komputer tablet (tab). Hal ini membuat para orangtua memanfaatkan gadget itu untuk mengendalikan anak mereka, menjadi solusi praktis ketika anak mereka terlihat bosan atau menangis tantrum. Upaya ini disebut dengan ‘screen time’. Meski demikian, ternyata screen time justru menyebabkan masalah baru dalam hal kesehatan mental dan perilaku anak. Mereka jadi kecanduan layar gadget, ketika dipisahkan darinya, mereka ada yang menangis, mengamuk, merusak barang-barang, bahkan ada kasus anak yang mengancam bunuh diri.

Bermain video game atau menggunakan aplikasi gadget sama dampaknya kepada anak. Semakin banyak bukti penelitian yang menunjukkan bahwa anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan, menunjukkan perilaku kecanduan. Apa sebabnya? Sebagian besar disebabkan oleh paparan screen time yang tidak teratur.

Tidak seperti otak orang dewasa yang sudah lebih berkembang, otak anak-anak rentan terhadap perubahan struktur dan konektivitas yang signifikan dan dapat menghambat perkembangan saraf, lalu menyebabkan gangguan ketergantungan layar. Klasifikasi kecanduan layar lainnya seperti:

  • Gangguan kecanduan internet
  • Gangguan permainan internet
  • Penggunaan internet bermasalah
  • Penggunaan internet kompulsif
  • Penggunaan video game patologis
  • Kecanduan video game
  • Penggunaan teknologi patologis
  • Kecanduan game online
  • Ketergantungan ponsel
  • Kecanduan situs jejaring sosial

Dalam makalah penelitian Dr. Aric Sigman yang dipublikasikan dalam Journal of International Neurology Association, tertulis: “’Kecanduan’ adalah istilah yang semakin sering digunakan untuk menggambarkan betapa banyak anak yang terlibat dalam berbagai aktivitas di depan layar gadget dengan begitu ketergantungan dan bermasalah.”

Jika Anda punya anak atau cucu, perhatikanlah dika ada gejala-gejala ini. Delapan gejala berikut ini bisa muncul jika screen time mereka berlebihan dan tidak teratur. Terutama jika berlebihan berselancar di internet atau bermain game online; bersikap tak acuh, semakin berkurang gerak, terlalu asyik saat bermain gadget, lupa waktu di depan layar gadget, berbohong dan gugup terutama tentang lama durasi bermain di depan layar, serta lari dari masalah atau kebosanan dengan bermain gadget.

Suatu penelitian tahun 2015 yang diterbitkan dalam Behavioral Sciences (Basel) menemukan bahwa 12 persen remaja gamer di Amerika menjadi ‘gamer patologis’. Meskipun bermain video game tidak memerlukan zat kimia atau intoksikasi apapun, namun para peneliti menyimpulkan bahwa kegiatan itu dapat menyebabkan gejala kecanduan.

Dr. George Lynn, psikoterapis dari Seattle, menyatakan bahwa 80 persen masalah pasiennya disebabkan terlalu banyak bermain game, terlalu banyak menonton video online, atau menggunakan media sosial secara berlebihan. Ia menemukan dalam diri pasiennya masalah kepribadian yang disebabkan oleh penggunaan layar gadget rekreasional yang berlebihan dan tidak terkontrol sepanjang hari.

Menjadi seseorang dengan gangguan ketergantungan gadget dapat memiliki efek yang sangat buruk. Menurut spesialis keluarga dan anak serta konsultan Pendidikan Anak Usia Dini, Claudette Avelino-Tandoc, mengatakan bahwa gangguan ketergantungan gadget pada anak dapat menyebabkan insomnia, nyeri punggung, obesitas atau kekurusan, masalah penglihatan, sakit kepala, kecemasan, ketidakjujuran, perasaan bersalah, dan kesepian.

Pada akhirnya, bagaimanapun, efek jangka panjang dari gejala-gejala ini bisa separah kerusakan otak. Bahkan, beberapa penelitian yang mengeksplorasi efek gangguan ketergantungan layar gadget telah membuktikan bahwa otak anak-anak menyusut atau kehilangan jaringan di lobus frontal, striatum, dan insula. Padahal area-area otak tersebutlah yang membantu mengatur perencanaan dan organisasi, serta kemampuan kita untuk mengembangkan belas kasih dan empati.

“Perangkat canggih atau gadget tidaklah buruk. Itu semua adalah alat yang berguna dan penting untuk komunikasi, penelitian, pembelajaran, hiburan, dan lain-lain,” kata Dr. Avelino-Tandoc. “Orang tua berurusan dengan para pembelajar abad 21, yang kami sebut ‘pribumi digital’. Mereka harus mengizinkan anak-anak mereka untuk memanfaatkan alat-alat ini, bukan dimanfaatkan olehnya. Keseimbangan adalah kata kuncinya.”

Berikut ini rekomendasi baru dari American Academy of Pediatrics serta metode Dr. Lynn tentang penggunaan media gadget bagi anak-anak:

  1. Untuk anak-anak di bawah 18 bulan, hindari penggunaan media layar selain video-chatting (untuk bercakap dengan orang lain secara jarak jauh). Orangtua dari anak-anak berusia 18 hingga 24 bulan  (2 tahun) yang ingin memperkenalkan media digital, harus memilih program berkualitas tinggi dan menontonnya bersama anak-anak mereka untuk membantu mereka memahami apa yang mereka lihat.
  2. Untuk anak-anak usia 2 hingga 5 tahun, gunakan layar terbatas untuk 1 jam per hari dengan program berkualitas tinggi. Orangtua harus menontonnya bersama anak-anak untuk membantu mereka memahami apa yang mereka lihat dan menerapkannya pada dunia di sekitar mereka.
  3. Untuk anak-anak usia 6 dan lebih tua, tetapkan secara tegas batas waktu menggunakan gadget. Juga tetapkan pula jenis gadget macam apa yang digunakan. Jangan sampai gadget tersebut mengganggu waktu tidur rutin, kegiatan fisik luar rumah, dan kesehatan anak.
  4. Tetapkan pula sejak awal mengenai kesepakatan quality-time bersama keluarga yang bebas dari gedget. Artinya, Anda harus menetapkan momen apa saja dimana semua anggota keluarga tidak memegang gadget. Misalnya di saat makan malam bersama, saat mengemudi. Juga termasuk menetapkan quality-room, yakni ruang dimana anak tidak poleh bermain gadget, misalnya di atas ruang dan tempat tidur.
  5. Jaga terus komunikasi dengan anak, terutama memberikan pemahaman tentang keterlibatan di media sosial, keamanan internet, serta bagaimana memperlakukan orang lain dengan hormat secara online dan offline.

Demikian beberapa tips mencegah dan mengatasi anak-anak dari kecanduan layar gadget. Tentu saja hal ini harus dimulai dari para orang tua. Jangan sampai orang tualah yang justru mengalami kecanduan gadget, misalnya dengan selalu terpaku di layar gadget untuk perang kopas di grup-grup watsap. [Menjangan]

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *