Surono Danu Penemu Benih Padi Unggul Penghasil 14 Ton Gabah Per-Hektar

MENJANGAN.ID – Surono Danu menjejakkan kaki pertama kali di Lampung tahun 1982 di Desa Bungkuk, Jabung, Lampung Timur. Saat itu ia meneliti dan mengenalkan beberapa tanaman kepada petani. Ia membuat pola pengembangan tanaman nilam dan vanili. “Tujuan saya menambah komoditas di Lampung yang otomatis akan menambah income petani.”

w9IGC2d5zu

Tahun 1984, ia melanjutkan penelitian dan pengenalan bercocok tanam yang baik ke umbulan Way Pengubuan, persisnya Kampung Terbanggibesar. Ia membawa benih nilam dan melakukan hal serupa kepada petani di sana. Namun, bibit nilam disimpan di Talang Jago, Bukit Kemuning. Ia juga mengenalkan benih jagung hibrida C-1, sekaligus mengajari petani cara bercocok tanam yang baik.

Rupanya Surono kurang puas dengan hasil yang diperoleh petani di Terbanggibesar. Ia pun “bertualang” lagi ke daerah lain di Bumi Ruwa Jurai. Seperti Kalinda, Kotaagung, dan daerah lain sembari meneliti benih padi unggul. Selama bertualang, Surono mengaku lebih banyak berjalan kaki atau dengan sepeda tuanya. Maklum, kondisi ekonominya jauh dari cukup. “Jangankan beli kendaraan, untuk ongkos saja tidak punya,” kata dia.

Surono-Danu-Peneliti-dan-Penemu-Padi-Unggul-SERTANI-Kabartani.com_

Selama bertahun-tahun ia menjelajahi daerah-daerah pertanian di Lampung. Hasilnya, Surono mengoleksi 181 jenis benih padi. Benih-benih itu dia teliti dan kemudian menetapkan tiga jenis benih padi unggulan. Ketiga jenis benih padi itu pun ia uji dan teliti. Untuk benih jantan, Surono memilih padi asal Terbanggibesar yang diberi nama Dayang Rindu. Sedangkan benih betina dipilih dua jenis padi, yakni asal Kampung Gunungbatin, Terusannunyai, yang dinamainya “Si rendah sekam kuning” dan “Si rendah sekam putih”.

Sejak 1985, Surono praktis memusatkan penelitiannya pada ketiga jenis padi itu. Dari hasil persilangan benih itu, 10 tahun kemudian ia menemukan benih padi yang berusia 150 hari. Dan, tujuh tahun kemudian–dengan rumus ciptaan dan pengetahuan yang dimilikinya–Surono akhirnya menemukan benih padi berusia 135 hari. Meski hasilnya cukup spektakuler, Surono belum puas juga. Ia masih terus meneliti dan tahun 1997 ditemukanlah benih padi berusia 105 hari. Benih padi itu pun ia beri nama Sertani 1.

Menurut Surono, satu hektare tanaman padi ini, dengan perlakuan yang baik, mampu memproduksi gabah maksimal 14 ton. “Benih ini tidak memiliki perawatan khusus bahkan tidak membutuhkan suplai air yang memadai. Justru dengan pasokan air yang lebih banyak, produksi menjadi tidak maksimal,” kata Surono. Benih ini juga mampu hidup di berbagai kondisi tanah apa pun seperti perladangan, gaga rancah, sawah, dan salinitas atau lahan yang kurang bagus untuk produksi.

Dari segi pemupukan, benih Sertani 1 ini hanya membutuhkan paling banyak lima kuintal per hektare dan tahan terhadap hama apa pun seperti hama tikus. Bila batang tanaman padi ini digigit tikus, batangnya mampu menutup luka akibat gigitan hama hanya dalam waktu 24 jam dan tetap bisa tumbuh dengan baik. Benih Sertani 1 memiliki antibodi sendiri sehingga lebih tahan terhadap serangan penyakit.

surono-danu-penemu-sertani-13

Sembari mengembangkan benih Sertani 1 dan mengenalkannya pada petani, Surono terus meneliti. Dua tahun kemudian (1999), dia berhasil menemukan benih padi dengan usia panen 95 hari. “Benih padi itu akan kita beri nama EMESPE-1 singkatan dari Mari Sejahterakan Petani,” ujar pria yang sangat tertekan semasa rezim Orde Baru itu.

Menurut Surono, padi EMESPE ini sudah ditanam di seluruh Indonesia. Ini memang jadi keinginannya agar padi hasil penelitiannya bertahun-tahun itu bisa meningkatkan kesejahteraan para petani karena hasil panenannya bisa dua kali lebih banyak ketimbang jenis padi lokal lain.

“Dahulu, Mahapatih Gajah Mada pernah bersumpah tidak akan makan buah palapa kalau belum bisa menaklukkan dan menyatukan wilayah Nusantara. Saya pun tidak makan nasi hasil penemuan saya ini sebelum tertanam di seluruh Indonesia. Nah, karena sekarang sudah tertanam di seluruh Indonesia, saya pun sudah merasakan nasi dari padi EMESPE,” jelas Surono.

f988a9e1b5889549f97a038bf1c2e0ff

Selama 20-an tahun meneliti, Surono tidak pernah menerima dan meminta imbalan dari siapa pun. Semua yang dia lakukan semata-mata didorong keinginannya menyejahterakan orang banyak, terutama petani. Hal yang membuat Surono tidak pernah surut untuk meneliti adalah sikapnya yang kritis dan selalu bersemangat. “Saya tidak punya apa-apa kecuali sikap kritis dan spirit. Seperti virus, inilah yang saya sebarkan kepada masyarakat. Jika kebaikan dan pengetahuan kita sebarkan seperti virus, masyarakat akan kuat,” ujarnya.

Dalam keseharian, Surono selain dikenal ramah dan tegas, juga terbuka pada siapa pun. Selain tekun meneliti tanaman, ia juga memiliki kemampuan meracik obat-obatan herba. Sudah banyak orang sakit yang disembuhkan oleh racikan obatnya. Benih unggul temuan Surono kini menjadi perbincangan. Bukan hanya di Lampung, juga seantero Indonesia. Meski demikian, kehidupan ekonomi Surono belum beranjak naik. Ia tetap saja seorang petani desa yang hidup penuh kesederhanaan. “Ibarat lukisan, saya ini lukisan abstrak, tidak jelas tapi mempunyai arti,” ujar Surono.

2 Comments

  • Infonya dong min apa perbedaan keunggulan yang mencolok antara benih padi Sertani 1 dengan benih padi EMESPE-1 selain ditinjau dari masa panennya …
    Mohon ulasannya dong min ….
    Makasi …
    salam kenal …

  • Infonya dong min …
    Apakah perbedaan paling mencolok antara bibit padi Sertani 1 dengan bibit padi EMESPE selain ditinjau dari masa panennya??
    Mohon infonya min …
    Makasi salam kenal …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *