Sebab Inflasi 1 Juta Persen, Harga Secangkir Kopi di Venezuela Sampai 2 Juta!

MENJANGAN.ID – Gara-gara inflasi hingga satu juta persen, lima angka nol di mata uang Venezuela jadi tak berharga. Bayangkan saja, tahun 2017 harga secangkir kopi hanya 2.300 bolivar (mata uang Venezuela, setara Rp0,084), namun tahun 2018 harganya mencapai 2.000.000 bolivar! Demikian sebagaimana diberitakan situs resmi World Economic Forum.

Maka pada 25 Juli lalu, Presiden Nicolas Maduro mengambil langkah solusi, yakni menghapus lima angka nol dalam mata uang mereka. Sehingga mata uang yang sebelumnya beredar, mulai pecahan 1.000 hingga 100.000 bolivar, akan ditarik dari peredaran. Lalu mulai bulan Agustus ini akan diganti dengan mata uang bolivar baru, berupa pecahan 2 sampai 500 bolivar. Begitu pula dengan uang koinnya, sekeping koin bolivar yang baru setara 100.000 koin bolivar lama.

Presiden Maduro memperkenalkan bolivar baru di Istana Milaflores Caracas | MIRAFLORES PALACE / HANDOUT / VIA REUTERS

Dengan mata uang baru ini, harga kopi yang mencapai 2 juta bolivar menjadi 20 bolivar saja. namun tentu saja langkah penggantian mata uang ini tidak menyelesaikan masalah inflasi di sana. Para ahli ekonomi Venezuela justru mengkritik langkah Presiden Maduro ini. Mereka menyatakan bahwa kebijakan presiden itu sangat dangkal dan sama sekali tidak bisa menjadi solusi bagi hiperinflasi yang mengggerogoti ekonomi negara.

Perlu diketahui bahwa inflasi adalah proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus berkaitan dengan mekanisme pasar. Faktornya bermacam-macam, bisa jadi sebab konsumsi masyarakat yang meningkat, likuiditas di pasar yang berlebih, hingga sebab distribusi barang yang tidak lancar. Atau bisa juga dikatakan bahwa inflasi adalah menurunnya nilai mata uang secara terus menerus.

Namun perlu dipahami juga bahwa inflasi adalah proses dari suatu peristiwa, bukan melulu tentang tinggi-rendahnya tingkat harga. Artinya, tingkat harga yang dianggap tinggi belum tentu menunjukkan inflasi. Ada empat golongan inflasi menurut tingkat keparahannya, yaitu inflasi ringan, sedang, berat, dan hiperinflasi. Inflasi ringan terjadi apabila kenaikan harga berada di bawah 10% setahun, inflasi sedang antara 10% hingga 30% setahun, inflasi berat antara 30% sampai 100% setahun. Sedangkan hiperinflasi atau disebut sebagai inflasi tak terkendali jika tingkat inflasi lebih dari 100% setahun. Seperti yang terjadi di Venezuela dengan tingkat inflasi hingga ribuan bahkan jutaan persen. Kalau ada istilah di atas hiperinflasi, pasti akan lebih tepat menggunakan istilah itu.

Jika pemerintah tidak mengeluarkan kebijakan fiskal lainnya di samping mengeluarkan mata uang baru, maka dalam waktu seminggu mereka pasti akan menghapus lima angka nol lagi dalam hitungan minggu. Demikian disampaikan para analis ekonomi di sana. Awal tahun ini, International Monetary Fund (IMF) sudah memprediksi tingkat inflasi Venezuela mencapai lima digit, yakni dari 2.820% pada 2017 menjadi 12.870% pada 2018. Minggu ini, IMF menyatakan bahwa angka inflasi akan meningkat hingga tujuh digit, mencapai 1.000.000%. Sebagaimana pernah terjadi di Jerman pada tahun 1920-an, ataupun di Zimbabwe pada 2000-an.

Mata uang bolivar lama dibuat kerajinan tangan.

Artinya, mata uang Venezuela hampir tidak ada harganya. Jika dibandingkan dengan rupiah per Agustus 2018, 1 bolivar sama dengan 0,084 rupiah. Berarti tiap 100 rupiah (pecahan terkecil Indonesia) bisa membeli 60 cangkir kopi. Apalagi bila dibandingkan dolar, 1 dolar AS sama dengan 170.000 bolivar. Lalu bagaimana dengan nasib mata uang bolivar lama yang hampir tidak berharga itu? Masyarakat Venezuela banyak yang membuat berbagai kerajinan tangan dengan uang-uang kertas usang tersebut. Sangkin tidak berharganya! Kira-kira bagaimana jika hiperinflasi terjadi di Indonesia? Ya semoga jangan sampai inflasi berat deh ya.

*Sumber: World Economic Forum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *