Perancis Larang Penggunaan Smartphone di Sekolah, Alasanya Bikin Manggut-manggut

MENJANGAN.ID – Parlemen Perancis mengeluarkan aturan pelarangan penggunaan smartphone dan tablet di SD dan SMP mulai pekan ini (Agustus 2018). Para siswa harus meninggalkan gawai canggih mereka itu di rumah, atau tetap membawanya ke sekolah tapi dalam keadaan dimatikan.

Larangan ini ditujukan agar para siswa bisa lebih fokus belajar di sekolah, serta mengantisipasi kecanduan terhadap gawai dan layar monitor. Aturan ini sebenarnya sudah dimulai sejak 2010, namun sebatas pada jam-jam pelajaran saja. Mulai September tahun 2018 ini, aturan yang baru dikeluarkan tersebut akan diterapkan di seluruh jam sekolah.

Adapun untuk SMA-SMA bisa menentukan sendiri apakah akan menerapkannya secara total atau cukup sebagian, mengingat para siswanya adalah para remaja menuju dewasa. Pelarangan penggunaan gawai di SD-SMP bisa dikecualikan jika ada hubungannya dengan proses pembelajaran, kegiatan ekstrakurikuler, atau bagi siswa difabel.

Aturan baru ini ditetapkan sebagai perwujudan janji Presiden Emmanuel Macron. Menteri Pendidikan Perancis, Jean-Michel Blanquer, menyatakan bahwa aturan terdahulu tidak bisa berfungsi secara maksimal, sedangkan aturan yang baru ini diharapkan bisa betul-betul sesuai dengan tujuan. Menurut survey, dalam rentang usia 12-17 tahun, ada 9 dari 10 remaja yang memiliki smartphone.

Peningkatan Angka Depresi dan Bunuh Diri

Sebuah penelitian membuktikan bahwa angka depresi dan bunuh diri para remaja antara 2010 hingga 2015 meningkat sejajar dengan peningkatan kepemilikan smartphone. Angka bunuh diri meningkat 31%, sedangkan angka depresi meningkat 33%, dan satu lagi yang meningkat 35% yakni angka kepemilikan smartphone.

Hal ini dijelaskan oleh para peneliti dari San Diego State University and Florida State University (Amerika), sebagaimana diterbitkan dalam jurnal Clinical Psychological Science Nov ‘14. Bahwa pada rentang tahun antara 2010 dan 2015 adalah periode pertumbuhan ekonomi yang stabil dan pengangguran menurun.  Waktu yang digunakan untuk mengerjakan pekerjaan rumah tetap sama, di samping tekanan akademis sebagai penyebabnya. Dan tingkat peningkatan depresi dan bunuh diri tetap sama di semua latar belakang sosial ekonomi, semua ras dan etnis, dan di setiap wilayah negara.

Setelah menelaah data-data statistik tersebut, peneliti menemukan prosentase kepemilikan smartphone di kalangan remaja Amerika meningkat sejajar dengan peningkatan angka depresi dan bunuh diri. Diperkirakan sekitar 35 persen remaja memiliki smartphone pada tahun 2010. Angka itu mencapai 73 persen pada tahun 2015, dan kini mencapai 77 persen.

“Analisa kami menyimpulkan bahwa generasi remaja yang saya sebut sebagai ‘iGen’ – yakni mereka yang lahir setelah tahun 1995 – justru lebih banyak mengalami masalah kesehatan mental daripada generasi milenial pendahulunya. Kami menyimpulkan bahwa para remaja yang menghabiskan lebih dari lima jam online dalam sehari, memiliki 71% resiko masalah mental daripada mereka yang online kurang dari satu jam sehari,” tulis profesor psikologi, Jean Twenge, selaku pimpinan penelitian tersebut.

Jadi memang faktor penyebabnya bukan semata-mata sebab kepemilikan smartphone, tetapi juga durasi online menatap layar digital di gawai canggih tersebut. Mereka yang online lebih dari dua jam sehari memiliki resiko depresi yang meningkat. Setidaknya, menurut Profesor Jean Twenge, intensitas ‘screen time’, berupa menghadapa layar gawai canggih yang terlalu lama, akan menimbulkan dua efek tidak langsung, yakni;

Pertama, Kurang tidur. Para remaja yang menghabiskan waktu online lebih lama tidak cukup tidur, bahkan tak sedikit yang mengalami susah tidur. Tentu hal ini bisa menyebabkan resiko depresi. Kedua, kurangnya interaksi sosial. Hubungan langsung dengan orang lain secara tatap muka adalah salah satu mata air kebahagiaan paling dalam bagi manusia. Makin berkurangya interaksi langsung tersebut, maka manusia cenderung rentan mengalami depresi.

*Diolah oleh Menjangan dari berbagai sumber, di antaranya Agence France-Presse

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *