Obat Kuat dari Bangkai Ulat Ini Lebih Mahal dari Emas

MENJANGAN.ID ~ Yarsagumba adalah sebutan bagi ‘jamur ulat’, yang terbentuk ketika jamur di atas tanah meracuni dan membunuh ulat yang menyentuhnya. Kemudian terbentuklah Yarsagumba, jamur medis termahal di dunia. Dipercaya bisa menyembuhkan asma, impotensi, hingga kanker.

Bagaimana Yarsagumba terbentuk? Ada semacam hubungan parasit dalam pembentukannya. Satu spesies jamur tumbuh di atas larva ulat dan menghisap nutrisinya hingga si larva pun mati. Inilah yang membuatnya disebut ‘setengah ulat setengah jamur’, nama ilmiahnya Ophiocordyceps sinensis. ‘Yarsagumba’ atau ‘yatsa gunbu’ berarti ‘rumput musim panas cacing musim dingin’, disebut juga ‘keeda jadi’ oleh oleh warga lokal Himalaya.

Larva ulat tumbuh di dataran tinggi sub-alpine di ketinggian antara 3.200 hingga 4.000 meter selama musim panas. Lalu spora parasit jamur (Ophiocordyceps sinensis) menempel di kepala ulat, menghisap energi dari ulat dan mulai tumbuh. Ulat pun mati. Di musim dingin, jamur-jamur mulai muncul dari kepala larva. Panjang jamur yang keluar dari ulat mati itu sekitar 5-7 cm.

Biasanya pada awal musim semi di bulan Maret-Mei Yarsagumba dipanen, digunakan sebagai obat-obatan tradisional, sebagaimana tercatat dalam literatur medis tradisional Tibet dan Cina. Yarsagumba juga dikonsumsi sebagai tonik untuk doping energi dan vitalitas, peningkat kekebalan tubuh, memperkuat ginjal dan paru-paru, pengobatan asthama, penyakit empedu dan kanker, mengurangi kolesterol, serta penyembuhan sakit kepala dan sakit gigi. Namun yang paling populer adalah bahwa Yarsagumba ini merupakan obat kuat yang ampuh, atau biasa disebut sebagai Viagra Himalaya.

Banyak desa di dataran tinggi bergantung padanya untuk mencari nafkah, sebab harganya sebanding dengan emas, bahkan lebih mahal. Karena harganya yang tinggi, Yarsagumba makin tereksploitasi. Satu kilogram Yarsagumba bisa bernilai hingga $100.000 atau sekitar Rp1.400.000.000 (1,4 milyar rupiah). Yarsagumba hanya bisa diperoleh di ketinggian 3000-5000 meter di atas pegunungan Himalaya, terbentang di wilayah Nepal, India, Bhutan, dan Tibet.

Yarsagumba harus dikeringkan sebelum dijual. Satu tangkainya yang berukuran sekitar 3 cm dengan berat kurang dari 0,5 gram bisa dihargai minimal $5 dari pemanennya. Tujuan paling populer untuk menjual Yarsagumba adalah China. Seorang bakul bisa mendapatkan harga setinggi $100 pergram di Shanghai,atau  $45 di Kathmandu, padahal ia membeli dari pemanennya hanya $18 per gram. Ukuran kilo, Yarsagumba dapat berharga $18000/kg dari pemanen lokal, lalu dijual seharga $100.000kg oleh bakul di Cina.

Perdagangan Yarsagumba ini legal di Nepal sejak tahun 2001. Sejak itulah harga di pasaran naik hingga 2300% dalam 10 tahun. Menurut sebuah penelitian oleh Shreshtha and Bawa (2013) yang diterbitkan dalam jurnal ‘Konservasi Biologis’, jumlah volume perdagangan Yarsagumba mencapai puncaknya pada tahun 2009, sejumlah 2.442 kg telah diperdagangkan pada tahun tersebut. Volume perdagangan telah menurun pada 2011 yang mencapai 1170 kg.

Yarsagumba ini menyebabkan ‘demam emas’ di daerah Himalaya, sebab di sana memang sedikit peluang usaha. Ia dianggap sebagai sumber daya biologis termahal di muka bumi saat ini, sehingga mampu mengangkat standar hidup masyarakat pemanennya. Menurut laporan terbaru Rastra Bank Nepal yang diterbitkan dalam Himalayan Times, sebuah keluarga pedesaan dapat memperoleh uang hingga $9000 dalam bulan panen, jumlah uang yang delapan kali lebih banyak dari dari pendapatan per kapita Nepal.

Seorang pengepul Yasagumba, Karma Lama, mengaku telah berbisnis Yasagumba selama lima tahun. Dia biasa mencarinya dimulai dari pos pendakian Annapura setinggi 4000 meter di atas permukaan laut. Di bulan Mei-Juni, beberapa desa di wilayah itu menjadi lengang tak berpenghuni, sebab warga desa banyak yang naik gunung untuk mengumpulkan Yarsagumba. Tentu saja kegiatan itu bukan hal yang mudah, sebab mereka harus menghadapi kecuraman dataran tinggi dan terutama hawa dingin yang menusuk.  Sebagai pengepul, beberapa hari sekali di bulan-bulan tersebut Karma Lama akan membeli Yarsagumba dari para pengepul. Setiap bijinya, ia beli seharga $3,5 hingga $4,5. Kemudian diekspor ke luar negeri seperti Jepang, Cina, Singapura, Inggris, Amerika, Korea, Myanmar, dan Thailand dengan harga bisa sampai $100 pergramnya.

Yarsagumba menjadi 56% sumber pendapatan tahunan bagi para pengumpulnya. Sangat membantu perekonomian warga desa di sana. Namun sayang, akibat terlalu banyak dipanen dan efek pemanasan global, jumlah Yarsagumba menurun drastis. Jika dahulu mereka bisa mengumpulkan ratusan Yarsagumba dalam satu hari, kini mereka hanya bisa mendapatkan beberapa biji saja, paling banyak belasan, bahkan kadang mereka pulang dengan tangan kosong. []

*Diolah oleh Menjangan dari berbagai sumber.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *