Menjadi Lebih Sehat dan Waras dengan Mandi Hutan

MENJANGAN.ID – Kita semua memaklumi bahwa manusia sudah lama terpisah dari habitat alaminya, yakni hutan. Padahal menghirup aroma atau ‘feromon dari hutan’ secara langsung bisa mengurangi hormon stres kortisol, denyut jantung dan tekanan darah, serta meningkatkan jumlah sel darah putih.

Secara alami, manusia belum atau mungkin tidak akan pernah bisa berevolusi untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan kota yang serba cepat, penuh tekanan, polusi, dan gersang tanpa pepohonan. Maka tidak heran jika kemudian kita menderita begitu banyak masalah kesehatan fisik dan mental. Dan masuk akal bahwa mengembalikan manusia ke habitat alaminya bisa menjadi penyembuh bagi kondisi tersebut.

Tapi apa sebenarnya aspek dari hutan yang bisa membawa kita kembali ke kondisi seimbang? Para ilmuwan belum menemukan jawaban pasti, tetapi mereka menduga bahwa pepohonan menarik dan menyejukkan kita dengan aroma kimia yang mirip dengan feromon manusia. Di Jepang, ketika seorang pasien menderita stres, depresi atau kecemasan, mereka tidak diberi obat semacam Prozac atau Xanax. Justru dokter akan memberikan resep kepada pasien untuk menikmati pemandangan, suara dan bau hutan.

Hal ini disebut ‘Shinrin yoku’ yang secara harfiah diterjemahkan berarti ‘mengambil suasana hutan’ atau ‘mandi hutan’. Dalam proses ini, manusia menyerap unsur-unsur penyembuhan dari hutan, terutama aromanya. Selama ribuan tahun, praktek ini telah terbukti menjadi solusi yang paling efektif untuk hampir semua luka batin manusia. Mandi hutan menjadi semacam terapi terpercaya di Jepang dan Korea, bahkan ditangani oleh asuransi kesehatan.

Bagi orang yang menghabiskan lebih dari 90 persen waktu mereka di dalam ruangan, tidaklah mengherankan bila istirahat di hutan akan memberikan efek positif pada kondisi kesehatan jiwa dan raganya. Penelitian menunjukkan bahwa ‘mandi hutan’ memang bisa memberikan manfaat kesehatan tertentu. Di antaranya mengurangi hormon stres, meningkatkan kekebalan, meningkatkan memori dan menumbuhkan emosi ‘merasa lebih hidup’.

Sebuah penelitian di Jepang menyimpulkan bahwa mandi hutan bisa mengurangi tekanan darah, detak jantung, dan kortisol lebih dari sekadar berjalan-jalan di kota. Penelitian di Finlandia dan Amerika Serikat juga menunjukkan pengurangan ketegangan dan kecemasan yang serupa.

Dalam penelitian lain, jumlah sel pembunuh alami – sejenis sel darah putih yang melawan sel tumor – menjadi 50 persen lebih tinggi setelah 3 hari mandi hutan daripada sebelumnya. Penanda sistem imun lainnya juga secara signifikan menjadi lebih tinggi.

Beberapa peneliti menghubungkan efek menenangkan hutan disebabkan oleh rasa kagum saat melihat keindahan alam. Tetapi ada pula yang berpendapat bahwa hal tersebut lebih berkaitan dengan indra penciuman kita. Bahwa pohon memancarkan minyak kayu esensial dan bahan kimia udara yang disebut phytoncides, atau kerap disebut sebagai ‘aroma hutan’. Phytoncides sebenarnya berfungsi melindungi pohon dari serangga dan infeksi mikroba, tetapi ternyata juga bisa meningkatkan kesehatan pada manusia.

Bukan hal yang kebetulan pula jika pepohonan berfungsi memproduksi oksigen. Dan kita semua tahu bahwa manusia bisa bertahan hidup dengan menghirup oksigen untuk bernapas. Sedangkan pepohonan sendiri menghirup karbondioksida yang diproduksi oleh manusia. Antara pohon dan manusia memang sudah ditakdirkan saling melengkapi. Seperti disebutkan oleh sastrawan Margaret Bates, “Antara manusia dan pepohonan ada napas. Kita adalah udara bagi satu sama lainnya.”

Namun mandi hutan jelas membutuhkan hutan sebagai perangkat utamanya. Sayangnya keberadaan hutan makin hari makin terancam. Entah untuk keperluan bisnis maupun penggundulan untuk pemukiman. Sementara itu di kota-kota besar juga jarang yang memperhatikan adanya hutan kota. Di sisi lain, masyarakat justru menganggap hutan sebagai tempat yang angker. Ditambah dengan citra hutan yang menyeramkan hasil gambar film-film horor dan kriminal. [Menjangan]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *