Maggha, Gadis 19 Tahun dari Bali Pengasuh Bayi-bayi Terlantar

MENJANGAN.ID ~ Yayasan Metta Mama & Maggha berlokasi di Jalan Gunung Lawu No. 30, Pemecutan Kelod, Denpasar Barat. Siapa sangka, yayasan yang sudah berdiri sejak Februari 2015 ini menampung dan merawat bayi-bayi telantar di Bali. Maggha Karaneya Kang (16), mendirikan yayasan ini dibantu oleh mama dan neneknya. Ia bercerita, sejak kecil, Maggha dan adiknya selalu diajak mama ke pasar tradisional dan panti asuhan.

“Sempat saat itu mama ketinggalan barang, lalu membiarkan aku duduk bersama anak tukang suun yang dua tahun lebih tua dari aku. Aku bingung mau ngapain, akhirnya mengeluarkan buku. Seketika anak itu tertegun, bertanya kenapa aku bisa membaca buku,” papar Maggha dengan air muka heran, sebagaimana dilansir Tribun Bali.

Dari sana Maggha mengetahui bahwa masih saja ada anak yang merasa membaca buku itu merupakan sesuatu yang besar. Anak itu tidak bisa sekolah sehingga Maggha punya pikiran untuk mengajari mereka dan membuka sekolah untuk mereka. Namun ternyata di Pasar Badung sudah ada tempat belajar untuk anak tukang suun. Maggha pantang menyerah.

“Nah, dari sana, aku kepikiran lagi untuk membangun panti asuhan khusus bayi. Tak apalah kecil, yang penting mereka terawat, nanti kami ajarin dari nol,” jelas Maggha sambil menoleh sebentar ke bayi-bayi yang sedang dirawat bidan di balik jendela rumah. Maggha, yang suka baca buku tentang psikologi, ini melihat kalau anak sudah ditelantarkan pasti sudah merasa diabaikan.

“Dari bayi mereka sudah merasakan, sudah tahu rasanya kurang kasih sayang. Yang begitu lebih susah merawatnya, dari kecil sudah ada perasaan takut ditinggal,” terang Maggha yang menjabat sebagai pemberi edukasi di yayasan ini dengan nada suara rendah.

“Sadha pertama kali datang ke sini susah sekali, begitu tidur langsung bangun teriak nangis, dia takut. Kalau sekarang sudah beradaptasi. Dulu ditaruh saja nangis dia,” imbuh Maggha kelahiran Denpasar, 3 Maret 1999 ini.

Maggha tidak ingin merasa bahwa bayi tak memiliki orang yang menyayangi mereka. Ada tiga bayi yang ditelantarkan orangtuanya dirawat di yayasannya kini. Semua bayi dirawat oleh delapan bidan dan seorang perawat.

“Mereka menyiapkan kebutuhan sehari-hari dan merawat mereka. Aku juga sudah bisa memandikan bayi karena sering lihat,” tutur Maggha dengan polos.

Kadang-kadang Maggha juga menginap di yayasan sehingga saat malam hari, ia bisa terjaga untuk menenangkan bayi yang terbangun. Mama dan keluarga besar, khususnya nenek Maggha, sangat mendukung pendirian yayasan ini.

“Mama yang mengurus segala prosesnya, bukan Maggha. Maggha inginkan karena didikan orang tua. Dari kecil kakek dan nenek ngajak ke panti asuhan,” ungkapnya.

Metta artinya rasa cinta kasih berasal dari bahasa Pali. Sang nenek sering dipanggil Mama oleh kliennya, selain juga berarti ekspresi ibu.

“Nah, Maggha bukan nama juga, melainkan jalan yang benar. Semua kebetulan,” ujar Maggha meyakinkan bahwa yayasan itu bukan milik Maggha seorang.

Maggha yang selalu mendapat support dari orang tua, nenek dan keluarga besarnya ini ke depannya ingin membuat sekolah. Ia berpikir demikian karena tak akan semua bayi teradopsi, ada juga bayi yang cacat pasti diam di sini. Kini Maggha sedang memroses izin pembuatan baby drop box di depan yayasan ini.

“Ya, sistem baby drop box itu seperti di Korea. Siapa pun bisa menaruh bayi di sana untuk diasuh dalam panti asuhan, tapi tak bisa dibuka kembali dari luar. Kotaknya juga sudah didesain khusus,” ungkap Maggha yang bercita-cita menjadi Psikolog Anak ini.

Ia mengaku banyak orang yang menelantarkan bayi di tempat yang dingin, berdebu dan berbahaya sehingga sedikit bayi yang bisa selamat.

“Mending langsung bawa ke sini untuk kami rawat daripada ditelantarkan,” tanggap Maggha yang kini kelas 10 homeschooling ini.

Maggha yang senang mendengarkan musik klasik dan instrumen ini mengaku lebih bisa mengatur waktu antara belajar dan berkiprah di yayasan.

“Kalau homeschooling, aku lebih bisa mengatur waktu dan lebih independen. Sehingga aku lebih punya waktu ke yayasan,” jelas Maggha dengan pipi yang memerah. Ia mengaku baru pertama kali diwawancara.

Meskipun Maggha disibukkan dengan Les Bahasa Jepang, Prancis dan Nari Bali, namun ia juga sempat studi banding ke yayasan lain.

“Kemarin sempat bersama nenek juga studi banding ke yayasan lain untuk belajar dan memberikan bantuan,” terang Maggha, anak pertama dari pasangan Cahyadi Adiguna dan Vivi Monata Sandra Tendean ini.

Maggha lebih banyak mendapat informasi mengenai bayi terlantar dari media sosial, sudah bekerjasama dengan RSUP Sanglah dan RSUD Badung.

“Nanti, bayi yang ditemukan telantar di bawah kolong mobil di Sanur akan masuk ke yayasan ini. Kemarin sudah ke rumah sakit langsung,” imbuh Maggha.

Ia juga mengatakan, sebenarnya tak ingin memisahkan ibu dengan bayinya. Ada juga sebuah kasus, seorang ibu yang tidak siap secara finansial dan mental, anaknya dititipkan di yayasan.

“Kami sudah bujuk beberapa kali untuk mengajak anaknya kembali, tapi ibu itu tetap tak mau,” kata Maggha berkulit putih itu.

Untuk proses adopsi bayi di Yayasan Metta Mama & Maggha ini bisa dilakukan ketika bayi memiliki berat 10 kilogram.

“Saat berat badannya sudah ideal, maka proses adopsi bisa dilakukan. Bayi-bayi di sini sudah banyak calon orang tuanya,” ungkap Maggha dengan tatapan matanya yakin. Maggha berpesan jangan menelantarkan bayi di jalanan yang penuh dengan ancaman. Bawa saja ke yayasan, Maggha dan keluarganya akan bantu merawatnya.

Tata cara adopsi atau donasi ke Yayasan Maggha bisa diakses di situs resminya: Mama Maggha Foundation

*Sumber: Tribun Bali, liputan Luh De Dwi Jayanthi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *