Lepas ASI, Balita Tidak Harus Minum Susu Formula

Oleh: Amalia Sinta

“Aduh lucunyaa. Umur berapa nih Mbak?” tanya seorang ibu muda.

“Yang kecil ini 2,5 tahun. Yang besar 5,5 tahun,” jawab saya.

“Oowh. Beratnya berapa, gemuk ya?” sambungnya sambil nyubit pipi Marvel.

“17kg. Kakaknya 27kg.,” jawab saya sambil melirik Marvel yang mengusap-usap pipinya.

“Waah, mereka susunya apa?”

“ASI”

“Oh iya. Trus sufor (susu formula)-nya merk apa?”

“ASI ajah mbak, gak minum sufor mereka.”

“Oh ya? Kok bisa gemuk?”

“Bisa, Mbak. Anak ASI bisa gemuk kok,” saya senyum mengakhiri pembicaraan.

Si Mbak manggut-manggut tapi wajahnya masih menyisakan tanya, hehe.

Dialog ini sudah puluhan kali terjadi, kalau saya ketemu orang baru. Mereka gemes liat badan Tera dan Marvel yang ginuk-ginuk. Emm.. Ibu-ibu masih banyak yang salah kaprah ya. Masih berpikir anak balita harus minum sufor dan masih mengidentikkan gemuk adalah sehat. Padahal itu gak sepenuhnya bener lho.

Anak kurus juga bisa sehat, asal BB dan TB ideal, growth chartsnya bagus. Anak gemuk juga bisa gak sehat, kalau hanya menimbun lemak sampai buat gerak ajah lamban. Oya faktor genetik juga pengaruh. Masa mama papanya kurus, anaknya suruh gendut?

Menurut saya sih Tera dan Marvel gak gemuk, tapi padat berisi. Coba gendong, berat. Tapi nggak ada lipatan lemak, yang ada otot ‘sekel’ kata orang Jawa. Itulah kerennya ASI. Diserap sempurna, semua kandungannya dibutuhkan anak untuk tumbuh. Nggak ada sisa yang hanya menggembungkan tubuh.

Anak-anak saya hanya minum ASI saja sampai usia 2 tahunan. Lalu abis itu apa mereka minum sufor? Tidak. Karena mengacu ke Kemenkes, pola makan yang benar adalah ‘Pedoman Gizi Seimbang’. Teori ‘Empat Sehat Lima Sempurna’ yang sejak dahulu mengagungkan susu, udah nggak berlaku. Faktanya, kebanyakan susu justru membuat anak susah makan, sulit dicerna usus dan tidak diserap sempurna. Akhirnya kegemukan/obesitas deh anaknya, yang kemudian bisa memicu berbagai penyakit seperti kanker, jantung dan hipertensi, diabetes, batu empedu, serta penyakit ginjal di masa depan.

Di Amerika juga sudah banyak dikampanyekan untuk mengurangi susu, setelah banyak anak yang jadi obesitas karena konsumsi susu yang berlebihan. Dikutip dari website AIMI; bayi yang diberi ASI memiliki kadar lemak yang lebih rendah dibandingkan bayi dengan susu formula. Pada usia 5-6 tahun, anak yg tidak pernah mendapat ASI memiliki angka obesitas 4.5%, jauh lebih tinggi dibandingkan bayi yg mendapat ASI lebih dari 12 bulan, yang memiliki angka obesitas hanya 0,8% (von Kries et al. 1999)

Jadi nggak perlu risau anak minum susu apa selepas ASI. Sama sekali tidak wajib disambung sufor. Fokus saja ke makanan sehat. Oya di sisi lain, langsung minum susu setelah makan, justru menghambat penyerapan zat besi yang dibutuhkan tubuh. Sayang banget karena bikin berat badan anak sulit naik.

Jadi Moms, jangan galau liat gempuran iklan sufor yang menggiurkan. Memprihatinkan deh, Indonesia adalah pasar sufor terbesar ke dua di dunia, setelah Cina. Kampanye sufor menggerus ASI, yang jelas lebih sehat, higienis dan murah. Yakinlah kau bisa menyusui, yakin ASI mu cukup. Jangan mudah terbuai iming-iming iklan sufor yang ada di berbagai media, yang selalu pakai model anak yang gemuk, lucu, sehat, pinter.

Anak kita nggak akan tiba-tiba jadi gemuk yang sehat hanya karena minum sufor. Asupan makanan padat yang utama. Anak nggak akan tiba-tiba jadi pinter, cuma gara-gara minum sufor. Stimulus otak yang utama. Ayo kita fokus ke Pedoman Gizi Seimbang: konsumsi beragam makanan, membiasakan perilaku hidup bersih, melakukan aktivitas fisik, serta mempertahankan dan memantau berat badan normal. So, selamat meng-ASI-hi dan hidup sehat ya Mak-emak! Be Happy, Be Healthy!

*Sumber: laman facebook Amalia Sinta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *