Kolam Renang Alami; Tidak Perlu Dikuras, Lebih Sehat dan Bersih Tanpa Klorin

MENJANGAN.ID – Kolam renang alami menggunakan tanaman sebagai pengganti klorin –yang biasa dipakai di kolam renang- untuk menjaga air tetap bersih. Tentu ini jauh lebih baik untuk kesehatan dan lingkungan, serta lebih menyenangkan untuk berenang!

Penelitian telah mengaitkan klorin dan bahan kimia kolam lainnya dengan alergi, asma, kerusakan paru-paru, kanker, kerusakan DNA, masalah jantung dan cacat lahir. Reputasi buruk klorin telah menyebabkan orang-orang untuk pindah ke semua jenis pengganti mahal seperti air asin (yang masih membutuhkan klorin), ionisasi dan perawatan sinar UV. Namun ternyata ada opsi lain yang telah populer di Eropa selama beberapa dekade dan mulai populer di Amerika Utara, yaitu kolam renang alami atau kolam renang organik!

Kolam renang alami intinya adalah kolam biasa yang terhubung dengan ‘kolam samping’ atau ‘kolam perbatasan’ yang dipenuhi kerikil, tumbuhan, serta hewan air sebagai pembersihkan air. Area alami yang mengelilingi sisi kolam disebut ‘area regenerasi’ yang tentu saja terpisah dari area berenang dengan dinding penahan.

Air dipompa ke dinding dan melalui ‘area regenerasi’ yang berfungsi membersihkan, menyaring dan mengoksidasi air. Tanaman di ‘area regenerasi’ ini bisa berupa alang-alang, lili air, teratai, atau tanaman asli lainnya yang bertindak sebagai filter. Hewan air dan serangga seperti katak dan capung juga akan muncul dan hidup di ‘area regenerasi’, mereka berfungsi melenyapkan nyamuk dan hama lainnya.

Maka kolam renang alami ini akan nampak seperti empang namun bersih. Alih-alih mengeringkan kulit sebagaimana klorin, kolam renang alami justru bisa melumasi kulit, membuat merasa bersih, segar, dan lembut. Tentu saja air di kolam renang alami aman untuk mandi dan bahkan untuk diminum.

Menurut sebuah majalah Inggris, Permaculture, kolam renang alami jauh lebih baik untuk lingkungan dan dapat menyediakan habitat bagi spesies akuatik yang terancam punah. Pemilik kolam renang biasa, rata-rata menghabiskan sekitar 20.000 galon air yang diklorinasi ke lingkungan sekitarnya setiap musim dingin. Tentu saja inhibitor alga dan bahan kimia lainnya merusak ekosistem alami sekitar.

“Kolam renang alami tidak perlu dikuras, tanpa harus menyedot 20.000 galon air segar setiap tahun. Selain itu, kolam renang alami berfungsi sebagai rumah bagi sejumlah spesies air yang terancam punah, yang akan lebih meningkatkan penyaringan kolam,” tulis Sebastian von Holstein di majalah Permaculture.

Ada berbagai tanaman air tawar, ikan, teritip, dan kerang yang membentuk hubungan simbiosis satu sama lain untuk membantu menyaring kolam renang alami, sambil meningkatkan tingkat perkembangbiakan spesies tersebut, yang di kemudian hari dilepaskan kembali ke air tawar liar kolam dan danau.

Orang-orang Jerman bahkan menggunakan teritip angsa yang langka di kolam renang alami mereka, dan menjadi penyaring alami yang sanggup menyaring hingga 2.000 liter air per hari. Kolam renang alami persis meniru sistem alami, yang secara biaya lebih efektif sekaligus tidak banyak membutuhkan tenaga perawatan.

“Sama seperti tanah yang sehat, sistem air yang seimbang mengandung semua mikroorganisme yang dibutuhkan untuk menyediakan air yang begitu bersih. Anda dapat mencuci dengannya, bahkan meminumnya! Tentu hal ini tidak bisa dilakukan dengan kolam renang biasa,” kata Holstein. Memang kolam renang alami membutuhkan lebih banyak uang (atau tenaga kerja) untuk pembangunannya di awal, namun biaya perawatannya akan jauh lebih murah dalam jangka panjang. [Menjangan]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *