Kebun Seluas 0,04 Hektar Ini Menghasilkan 3 Ton Sayuran Organik Tiap Tahun

MENJANGAN.ID – Keluarga Jules Dervaes berhasil memproduksi 3 ton (30 kintal) bahan makanan organik setiap tahun hanya dengan lahan seluas 400 meter persegi. Kebun ini menghasilkan 90% kebutuhan pangan vegetarian mereka. Uang tambahan yang dikeluarkan untuk kebutuhan lain keluarga ini hanya $2 (sekitar Rp26.000,-) per hari. Selain untuk konsumsi keluarga, kelebihan hasil kebun ini dijual dan menghasilkan pendapatan sampai $20.000 (sekitar Rp260.000.000,-) setiap tahunnya.

urban-homestead-backyard

Keluarga ini tinggal sekitar 15 menit dari Los Angeles, hanya 30 meter dari jalan raya. Mereka berhasil mengubah petak lahan sempit menjadi surga mini yang produktif. Selain bangunan rumah, garasi, dan akses jalan, keluarga ini memanfaatkan lahan sempit 400 meter persegi yang mereka punya menjadi ‘food forest’ atau lumbung makanan tanpa melibatkan pupuk sintetis apapun.

Apa rahasianya? Ternyata mereka menggunakan metode pertanian permakultur, yakni suatu metode bertani yang melibatkan alam untuk memperkaya tanah dengan nutrisi dan bakteri pengurai. Sebagaimana kita tahu, pertanian konvensional bertanggung jawab mengurangi nilai nutrisi dalam tanah, sehingga tanah pun menjadi liat dan ‘sakit’. Adapun metode permakultur ini tidak hanya tidak merusak nutrisi dalam tanah, tetapi justru meningkatkan kandungan nutrisi tanah, demikian menurut ahli permakultur Toby Hemenway.

main2-1024x559

Ketika pertama kali pindah ke lokasi ini pada tahun 1985, yang Jules Dervaes dan keluarganya dapati hanyalah tanah liat-kering yang tidak subur. Selama beberapa tahun pertama ia berupaya keras untuk menyehatkan kembali kondisi tanah, yakni dengan taburan debu vulkanik, kotran kambing dan ayam, kompos buatan, serta mikroorganisme-mikroorganisme yang efektif mengembalikan nutrisi tanah. Dervaes berhenti menggunakan pupuk NPK organik sejak 2007, dan sama sekali tidak pernah menggunakan pupuk NPK sintetis.

Mereka betul-betul memanfaatkan lahan sesempit apapun untuk bercocok tanam yang mereka sebut dengan sistem ‘Perkebunan Petak Inchi’. Yakni dengan menanam tanaman serapat mungkin sehingga mencegah air hilang menguap dari dalam tanah. Hal ini karena Darvaes percaya bahwa tanah tidak boleh telanjang dan terbuka. Maka ia menanam serapat mungkin tanpa ada ruang senggang terlalu jauh antar-tanaman, tentu saja tanaman yang berdekatan adalah tanaman yang bisa saling bersimbiosis. Tak hanya efisien secara ruang, metode ini juga membuat minimnya perawatan.

IMG_0429-1024x576

“Sayur-mayur besar seperti brokoli dan lada ditanam di atas hamparan selada atau arugula di bawahnya. Hamparan sayuran ini akan berfungsi sebagai mulsa alami, mencegah tumbuhnya rumput dan menjaga tanah agar tetap lembab,” kata Dervaes di situsnya, urbanhomstead.org. Dervaes memang sejak lama ingin kembali ke dunia pertanian sejak masa Perang Vietnam. Hingga ia memulai lahan pertamanya di Pasadena, California. Kekeringan pada awal 1990-an memaksanya untuk bercocok tanam di sana.

Awalnya, halaman depan rumahnya ditanami rumput, namun yang ia rasakan hanya permborosan karena terlalu banyak menghabiskan air, dana, dan waktu. Ia pun memutuskan untuk menanami halamannya dengan ‘tanaman yang berguna’. Apalagi setelah ia tahu bahwa pada 2001 rekayasa genetik sudah merambah suplai makanan yang beredar di masyarakat.

Dervaes kemudian tertantang untuk bercocok tanam di lahan sempitnya. Seberapa banyak hasil yang bisa dipanen dari lahan sesempit 400 meter persegi itu. Awalnya memang dia berharap bisa memiliki lahan luas dulu baru bertani. Namun ia tak sabar menunggu, hingga ia pun menanggapi tantangan itu.

julesdervaes-getty-kirkmccoy

“Ayah mulai menggarap setiap inchi lahan di rumah. Vertikal, horisontal, halaman depan, halaman belakang, sampai di jalan parkiran,” tutur Anais dan Jordana, putri Dervaes. “Tidak ada yang kami contoh. Kami hanya melakukannya saja,” imbuh Justin, putranya.

“Saya percaya, menanam makanan sendiri adalah pekerjaan paling berbahaya di muka bumi. Sebab dengan menanam makanan sendiri, Anda menjadi bebas. Dan Anda dalam bahaya ketika sudah jadi orang bebas,” ujar Dervaes. Keluarga ini juga membuat biodiesel mereka sendiri, kebutuhan listrik rumah juga disuplai secara penuh dengan tenaga surya. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *