Irfan Hafiz, Pemuda Lumpuh yang Menulis Buku Hanya Dengan Satu Jari

MENJANGAN.ID – Kisah tentang pemuda ini pasti bisa membuat semangatmu tergugah. Kalau semangatmu sedang loyo, kamu akan terinspirasi dan bangkit lagi. Kalau kamu merasa tidak mampu, mengenal manusia inspiratif satu ini pasti kamu akan malu dan mulai percaya diri. Jika dengan membaca kisah pemuda ini tidak membuat semangatmu bangkit, maka mungkin yang kau alami lebih berat dari pemuda ini, atau kamu memang sudah bukan makhluk hidup lagi.

Dialah Irfan Hafiz. Saat usianya 18 tahun, seluruh sistem ototnya lumpuh dan tidak bisa lagi bergerak. Selama 19 tahun kemudian, dia hanya bisa rebah di kasur rumahnya. Namun ini bukan kisah sedih, melainkan kisah yang sangat inspiratif. Bayangkan saja, dengan sisa kekuatan satu jari telunjuk yang masih bisa digerakkan, Irfan belajar Bahasa Inggris secara mandiri. Kemudian dia menulis dan terus menulis dengan laptopnya, atau dengan ponsel pintarnya. Dan tahukah kamu? Dari satu jarinya itu, Irfan telah melahirkan tiga buku berbahasa Inggris yang terjual ribuan eksemplar!

Irfan Hafiz di depan laptopnya | Foto: Captured from Nas Daily

Irfan dilahirkan pada 28 Agustus 1981 di Matara, Sri Lanka. Ia merupakan anak ketiga dari delapan bersaudara dan mengidap penyakit yang disebut Duchenne Muscular Dystrophy (DMD), salah satu penyakit yang diklaim tidak ada obatnya sampai saat ini. Ayahnya pensiunan kepala sekolah, ibunya ibu rumah tangga yang bertugas merawatnya. Saat lahir, dia normal sebagaimana anak-anak lain. Dia bisa berjalan, lari, lompat, dan bermain. Untuk sekolah pun dia bolak-balik jalan kaki sebagaimana umumnya.

Saat kelas 1 SD, ketika ikut balapan lari Irfan merasa kesulitan. Hingga saat kelas 3 SD dia mulai susah berjalan. Maka sejak saat itu ia diantar oleh kakaknya ke sekolah, dan ketika di sekolahpun hanya berdiam di dalam kelas sebab khawatir jatuh. Akhirnya Irfan dibawa ke rumah sakit di Matara dan Colombo. Dari hasil pemeriksaan mendalam, dipastikan ia mengidap DMD. Saat itu usianya 7 tahun, dan dikatakan oleh dokter bahwa harapan hidupnya hanya sampai usia 18 tahun.

Berita itu sangat mengguncang Irfan dan keluarganya. Namun mereka tidak menyerah meskipun sangat berat awalnya. Irfan terus berjuang menumbuhkan semangat hidup. Untuk mengungkapkan keluh kesah di hatinya, ia mulai menulis. Oiya, Irfan masih tetap puasa di bulan Ramadan, dan sedang merencanakan buku keempatnya. Irfan betul-betul berjuang untuk hidup melalui papan keyboardnya dengan menulis. Tiga bukunya yang sudah terbit yaitu;

Silent Struggle, yakni buku pertama Irfan yang terbit pada Februari 2012. Berisi puisi-puisi tentang perjuangan hidupnya dan keluarganya. Ia menulis buku ini menggunakan laptop, dengan memakai keyboard virtual di layar dan diketik dengan klik mouse satu persatu!

Moments of Merriments, buku kedua Irfan yang terbit pada Agustus 2014. Sebua mini novel dengan 15 bab yang ditujukan bagi anak-anak dan remaja. Butuh waktu setahun bagi Irfan untuk mengetik naskah buku ini huruf demi huruf. Hingga sampai selesai 40.000 kata. Silent Thoughts, buku ketiga Irfan yang terbit pada Juli 2016. Berisi 15 bab pandangan-pandangan Irfan tentang kehidupan yang ia dapatkan dari orang tuanya.

Buku-buku karya Irfan Hafiz | Foto: captured from Nas Daily

Dalam memoarnya, Irfan mengatakan perihal penyakit dan hidupnya;

“Apa yang bisa kupelajari dari hidupku ini, sejauh ini adalah; jika kau bisa membangun pikiran yang kuat dengan keberanian maka kau akan sanggup menghadapi kesulitan apapun dalam hidupmu. Namun kau juga perlu memiliki keyakinan agama yang kokoh dan tak boleh luntur sedikitpun, hingga kau akan bisa menghadapi saat-saat tersulit dalam hidupmu.

Kupikir penyakit Duchenne telah mengajariku kesabaran dan toleransi dalam hidupku. Duchenne telah menyatukan para orang tua seluruh dunia, dan membantu kita melihat siapa orang-orang yang baik itu. Duchenne menunjukkan masih ada orang-orang baik di muka bumi, dan menunjukkan siapa kawan-kawan sejatiku sebenarnya.”

Kabar terbaru sebagaimana diberitakan Nas Daily melalui video singkatnya, Irfan meninggal pada awal Agustus 2018 ini dalam usia 37 tahun, melampaui 19 tahun prediksi dokter saat ia kecil yang mengatakan bahwa usianya hanya sampai 18 tahun. Ia mungkin satu-satunya orang yang layak disebut sebagai ‘keyboard warrior’, bukannya mereka yang saling serang satu sama lain di media sosial sebab urusan politik dan agama. [Menjangan]

*Sumber: Silent FighterIrfan Hafiz Memoar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *