Demam Anakku Sembuh dengan Pelukan!

Oleh: Rinto F. Simorangkir

Mungkin salah satu masa paling berat bagi orang tua adalah ketika akan menghadapi anak sedang mengalami sakit penyakit. Disamping mungkin ada banyak masalah yang mungkin terjadi di dalam keluarga, masa-masa itulah yang paling menyita perhatian, pikiran dan bahkan mungkin waktu kita.

Anakku demam, semula tidak begitu kusadari. Secara memang kami baru pulang mudik ke kampung halaman mertuaku. Disamping untuk menghadiri pernikahan salah satu keluarga dekat kami, kami juga menikmati acara tersebut untuk liburan. Sebab memang acara pernikahan tersebut diadakan di Pulau Samosir, tepatnya di desa Nainggolan, dimana kampung mertuaku berasal.

Sampai sore hari di rumah Sibolangit, langsung beres-beres dan persiapan makan malam. Malamnya masih menikmati untuk nonton live pertandingan piala dunia, sambil menyelesaikan beberapa topik tulisanku. Kemudian menemani boru (anak perempuan)-ku tidur.

Paginya ternyata boruku sudah menunjukkan rewel, maunya minta digendong terus. Tapi keinginannya harus kuabaikan, soalnya harus menyelesaikan beberapa tugas piket di pagi hari. Berbagi tugas dengan istri, diriku punya tugas untuk selalu menyuci kain kotor kami, dan membersihkan rumah.

Masih menyempatkan bersama kedua anakku dengan bermotor untuk pergi ke warung membeli telur untuk sarapan pagi. Disitu dia mulai merasa kedinginan dan menggigil. Tapi aku mengabaikannya, sebab memang tidak akan apa-apa.

Kemudian setelah selesai tugas piket di pagi hari hinggamenjelang siang, baru demamnya sudah tidak ketulungan. Akhirnya sejak pagi menjelang siang hari, dirinya terus kugendong dan berada disampingnya  menemani tidurnya. Terus menerus menangis dan rewel menunjukkan tangannya yang menggigil. Pada saat itu langsung kucoba mendekapnya, berharap supaya demamnya bisa turun.

Berdiskusi dengan istri, bagaimana kalau pergi ke puskes. Tapi sepertinya akan berujung sia-sia, soalnya anak kami yang satu ini, sama sekali tidak suka obat apalagi kalau memakan obat. Jadi kami mengurungkan niat kami untuk membawanya kesana. Hal itu nantinya langkah yang paling akhir.

Kemudian ternyata di sore harinya, dia sudah beberapa kali berkeringat, dan diriku mencoba terus untuk memberikan minum kepadanya. Dan akhirnya dia sudah mulai baikan dan tertarik bermain dengan anak anjing yang kebetulan bermain di halaman rumah bersama dengan anak ku yang paling kecil. Mungkin sudah merasa bosan sebab satu hari-an berada di rumah terus.

Yang mau coba saya tekankan disini adalah ternyata betapa ajaibnya sebuah pelukan kasih sayang dari  orang tua kepada anak. Memiliki daya penyembuh yang lumayan mujarab. Tapi memang kendalanya bagi kebanyakan keluarga adalah karena banyaknya tugas dan tanggung jawab dari sebuah pekerjaan, sehingga masa-masa itu sepertinya terambil dari seorang anak.

Pentingnya kehadiran dan peran kita berdua (suami dan istri) di dalam menolong pertumbuhan dan perkembangan anak yang telah dianugerahkan kepada kita. Apalagi ketika mengalami masa-masa sakit bagi seorang anak.

Ketika masa itu terjadi, tak jarang kita sebagai orang tua memohon dan berdoa supaya mendingan sakit penyakit si anak itu pindah saja ke kita. Tapi ternyata si anak yang tetap harus mengalami sakit penyakit tersebut. Berharap selalu yang terbaik terjadi bagi anak kita. Kemudian mengambil langkah untuk pergi ke faskes terdekat. Tapi tak jarang ternyata kita melupakan bahwa Tuhan telah menempatkan bahwa penyembuh itu ternyata ada pada orang tua itu sendiri.

Contohnya dalam kasus demam yang dihadapi anak. Awalnya diriku menganggap hal itu hanyalah mitos doang. Tapi ternyata setelah kubuktikan, ternyata ajaib hal itu bukanlah sekedar mitos semata. Praktekkanlah, maka niscaya hal itu menjadi obat yang manjur bagi demam anak.

*Sumber: Kompasiana Rinto F Simorangkir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *