Cara Mudah Membuat Briket Arang di Rumah

Oleh: Ahmad Bahruddin

Sekitar 25 tahun yang lalu saya dikenalkan oleh Frans Taolin, Ayi Bunyamin, dan Handoko Soetomo dari LPIST Jakarta mempraktikkan pembuatan tungku hemat energi “Johannes” dengan bahan bakar briket sampah (Prof Herman Johannes – pakar MIPA dan mantan rektor UGM).

Apa yang saya lakukan ini sempat membawa hasil yang gemilang, yakni piala Adipura untuk kota Salatiga yang setahu saya baru kali itu Salatiga dapat Adipura! Proses membuat briket bioarang sangat gampang dan sederhana. Perangkat utamanya drum bekas volume 200 liter dilubangi sempit di bagian atasnya (garteng 25 cm).

Caranya sebagai berikut:

  1. Biomassa kering setebal 20 cm dimasukkan kedalam drum dan dibakar. Biomassa ditambahkan berangsur-angsur dan sesekali diaduk dengan tongkat kayu. Biomassa adalah bahan organik yang dihasilkan melalui proses fotosintetik, baik berupa produk maupun buangan. Contoh biomassa antara lain: tanaman, pepohonan, rumput, ubi, limbah pertanian, limbah hutan, tanah gambut, tinja dan kotoran ternak.
  2. Penambahan biomassa dihentikan bilamana bioarang yang terjadi sudah sebanyak sepertiga drum.
  3. Bila asap dalam drum berangsur-angsur kurang sampai menjadi tipis walaupun diaduk berarti semua biomassa telah termalih (converted) menjadi bioarang.
  4. Bioarang segera dipadamkan, bisa dengan dua metode pemadaman: pemadaman secara basah dengan menggunakan air secukupnya, pemadaman secara kering dengan menutup mulut drum menggunakan plat seng garteng 25 cm dan pinggirnya dilipat kedap udara dengan pasir basah.
  5. Setelah itu, bioarang dicampur biomassa (sekam / kulit padi, kulit kopi, serbuk gergaji, tanah gambut dll.) dengan perbandingan 1:1 lalu dapat dicetak menjadi briket. Bisa dengan cara sederhana ditumbuk dengan sedikit air sehingga menjadi adonan yang lengket terus dicetak dan dijemur, atau yang paling mudah menggunakan mesin pencetak briket. Briket arang “sampah” ini dapat digunakan sebagaimana lazimnya bahan bakar seperti arang kayu atau batu bara.

Nah, saya menjadi merasa “gatal”, “gemas”, “gregetan”, menyaksikan pembakaran kayu-kayuan dan semak-semak di hutan yang bikin masalah besar. Waktu itu ketika saya memproduksi briket “sampah” saya harus mencari bahan-bahan biomassa sampai minta-minta ke tetangga membersihkan guguran daun-daun bambu, minta sekam padi, beli serbuk gergaji untuk campuran mencetak briket, dan seterusnya dan seterusnya. Lha, ini ada kayu-kayuan, semak-semak yang sedemikian melimpah ada tanah gambut yang bisa digunakan untuk campuran bioarang bikin briket, kok dibakar begitu saja!

Kalau saja setiap satu meter persegi lahan (kayu-kayuan, semak dan gambut) bisa untuk memproduksi briket 1 ton saja, maka setiap 1 hektar lahan akan dapat diproduksi 10.000 ton briket arang. Kalau kali ini kita kebakaran 1,7 juta hektar, berarti sebenarnya ada 17 milyar ton briket arang yang seharusnya dapat dihasilkan. [Menjangan]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *