Cara Menghadapi Kemarahan Remaja

MENJANGAN.ID ~ Masa-masa remaja merupakan saat dimana mereka mulai bingung menghadapi perubahan fisik yang sangat drastis. Begitu pula dengan emosi yang tidak stabil serta ketertarikan dengan lawan jenis yang mulai muncul.

c243140a6c8be05afba51946cfddefd63b8f2cca_angry-boy

Semua hal itu bisa menjadi faktor yang sangat kuat untuk memancing kemarahan mereka tanpa bisa dipahami penyebabnya. Sebagaimana emosi lainnya, kemarahan merupakan hal yang alami, bukan sesuatu yang bisa dinilai dengan ukuran salah atau benar. Namun kemarahan bisa menyebabkan luka, takut, dan hal-hal merusak lainnya.

Sebagaimana rasa nyeri di tubuh, kemarahan juga memiliki fungsi untuk memberitahu diri kita bahwa ada ketidakberesan yang sedang terjadi dan musti dibereskan, atau ada ketidaklengkapan yang perlu dilengkapi di dalam diri. Mengekspresikan kemarahan bisa menjadi salah satu metode alami untuk mendorong diri maupun orang lain membereskan hal-hal tersebut. Sebaliknya, memendam kemarahan justru bisa berakibat buruk bagi kejiwaan kita, berupa depresi atau bahkan jatuh sakit.

Lalu bagaimana jika kemarahan sedang melanda anak remaja? Bagaimana kita menyikapinya? Ini dia cara-cara menghadapi kemarahan remaja yang bermanfaat untuk Anda.

Jangan diambil hati dan biarkan terlampiaskan

Terkadang, ketika remaja marah-marah, ekspresi kemarahannya akan memancing kita –orang dewasa- marah juga. Terutama dengan umpatan-umpatan, bentakan, atau curahan hati berupa kata-kata kasar. Biasanya kata-kata pedas itu juga berkaitan dengan pribadi kita. Saat itulah kita harus bersikap tenang. Jangan diambil hati.

Kita harus memahami bahwa kemarahan membuat mereka tidak bisa berpikir stabil, tidak bisa pula mendengarkan nasehat. Apa yang mereka butuhkan saat itu adalah meluapkan emosi kemarahan itu, sehingga bisa berangsur-angsur tenang. Maka biarkanlah mereka menuntaskan marahnya, tentu saja harus ada tindakan tertentu ketika mereka sudah marah berlebihan sehingga tidak sampai melakukan pengrusakan atau hal-hal membahayakan.

Simak baik-baik dan ajak bicara

Setelah luapan emosi berupa kemarahan atau kekesalan mereda, dengarkan baik-baik apa yang mereka katakan. Dengarkankanlah intonasi ucapannya, jangan dengarkan kata-katanya. Jadi, ketika si remaja membentak sebal, “Aku benci kau! Kenapa kau tidak pergi saja?!” yang kita pahami adalah, “Aku sangat kesal! Aku ingin menyelesaikan masalahku sendiri tapi kau sepertinya tak percaya padaku!”

Dengan memahami intonasi ucapannya, kita bisa mulai memahami apa yang sedang mereka rasakan dan butuhkan. Sikap kita ini akan membuat mereka menjadi lebih tenang dan nyaman untuk mulai berbagi, serta mengungkapkan perasaan. Ketika kondisi sudah memungkinkan, kita bisa mulai membuka dialog dengan menyatakan apa yang sedang merasakan, “Kau terlihat begitu bingung,” atau, “Sepertinya kau sedang khawatir ya.”

Kemudian kita bisa mengatakan hal-hal yang bernada instruksi tanpa kesan memerintah. Misalnya, “Kau bisa cerita padaku tanpa harus teriak-teriak, tak usah banting pintu. Ada apa sebenarnya, ceritakanlah.”

Jika mereka sudah mulai nyaman dan mau berbagi perasaan, mulailah perhatikan apa yang mereka butuhkan. Memang kadangkala mereka hanya butuh didengarkan dan diperhatikan, setelah itu perasaan mereka akan mulai membaik dan pulih. Namun di situasi tertentu memang mereka butuh solusi dari orang dewasa atas permasalahan yang sedang dihadapi. Demikian langkah-langkah menghadapi kemarahan remaja yang semoga bermanfaat saat kita berhadapan dengan anak, adik, murid, atau remaja manapun yang sedang marah.

*Sumber: Family Lives

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *