Bangunan TK Jepang Ini Didesain Agar Anak Aktif Bermain, Idenya Dari Indonesia!

MENJANGAN.ID – Atap Taman-Kanak (TK) Fuji di kota Tokyo ini berbentuk oval, bentuknya ini memungkinkan anak-anak bermain dan berlari tanpa henti. Diselesaikan oleh Tezuka Architects 10 tahun yang lalu, TK Fuji terletak di pinggiran kota Tachikawa dan mengakomodasi 600 anak-anak berusia antara 2-6 tahun.

Sekolah mengikuti Metode Montessori, pendekatan pendidikan di mana anak-anak diberi kebebasan untuk berkeliaran di sekitar kelas dan belajar melalui penemuan. Daripada memaksakan batasan fisik pada anak-anak, arsitek yang berbasis di Tokyo, Takaharu Tezuka mendesain TK ini sebagai ruang yang memungkinkan pembelajaran dan bermain tanpa batas. Dia menyebut konsepnya sebagai ‘masa depan nostalgia’, di mana dia melihat cara anak-anak secara alami memilih bermain tanpa gadget dan layar, kemudian ia memfasilitasi dengan desain masa depan.

Proyek ini telah dianugerahi RAIC International Prize Moriyama pada tahun 2017, yang mengakui bahwa karya arsitektur ini dianggap sebagai desain transformatif dalam konteks kemasyarakatan. Di TK ini tidak ada peralatan bermain yang terpasang, justru arsitektur bangunan itu sendiri yang berfungsi sebagai ‘alat bermain raksasa’. Anak-anak diperbolehkan untuk bergerak bebas, jatuh dan basah di lingkungan yang aman.

“Karena bangunan berbentuk adalah cincin melingkar, maka anak-anak bisa saling melihat,” kata Tezuka, “Tidak ada perasaan di tengah. Anak-anak belajar bersikap adil kepada semua orang, mereka belajar bagaimana menjadi bagian dari kelompok yang baik.”

Area atap berfungsi ganda sebagai taman bermain dan jalur lari, menjadi lingkaran tanpa ujung untuk saling berkejaran satu sama lain. Dek dibangun mengelilingi pohon Zelkova yang ada, dengan jaring yang dipasang di sekitar pangkal pohon untuk memudahkan anak-anak memanjat. Saat anak-anak berinteraksi dengan bangunan itulah momen emosional terjadi.

Pegangan di sekeliling tepian atap berfungsi sebagai pagar keamanan. Sekaligus berfungsi sebagai tribun penonton ketika ada pagelaran di tengah bangunan. Pagar-pagar itu cukup dekat sehingga tidak akan membuat kepala anak-anak mereka tersangkut, dan tetap bisa menjadi tempat duduk anak-anak dengan kaki menjuntai. Ketinggian atap hanya 2,1 meter, sehingga memungkinkan hubungan antar-tingkatan. Anak-anak dapat berebut menaiki tangga untuk mencapai perosotan di atas dek, kemudian meluncur ke bawah.

Atap transparan dipasang di atas dek, membiarkan cahaya alami masuk ke ruang kelas di bawah. Juga ada semacam jendela kapal agar anak-anak bisa mengintip teman sekelas mereka. Dipasang juga lima patung pancuran yang menyalurkan air hujan ke pot-pot air, menciptakan air terjun dadakan bagi para siswa untuk bermain di musim hujan.

Di lantai dasar, pintu geser memungkinkan ruang kelas dibuka sepanjang haru ketika cuaca cerah. Alih-alih membagi dinding, para arsitek menciptakan kotak berukuran anak-anak yang terbuat dari kayu ringan dengan ujung bulat yang dapat ditumpuk untuk membuat rak dan area pameran karya.

Tezuka meyakini bahwa desain kelas pada umumnya tidaklah alami dan kontraproduktif bagi lingkungan belajar yang positif. Desain kebebasan karya Tezuka ini mendorong kemandirian dan kolaborasi anak-anak, tanpa memaksa mereka untuk duduk diam memperhatikan dalam jangka waktu yang lama.

Dengan membiarkan ruang kelas selalu terbuka semacam itu, maka suara 600 anak menciptakan tingkat ‘kebisingan putih’ yang juga ditemukan di alam terbuka. Tezuka mendapatkan ide ini ketika dia bertemu dengan komposer dan ahli biologi molekuler Tsutomu Ohashi saat berlibur di Bali. Ketika mendengarkan kembali rekaman penampilan grup musik Indonesia ketika di Bali itulah Tezuka menyadari ternyata suara musik itu terbiaskan oleh suara hutan sekitar panggung. Padahal selama menyaksikan pertunjukan itu secara langsung, suara hutan itu tidak ia sadari.

“Sebagaimana ikan yang tidak bisa hidup di dalam air yang dimurnikan, demikian pula anak-anak. Mereka tidak bisa hidup aktif di lingkungan yang ‘bersih’, ‘tenang’, dan ‘terkendali’,” ujar Tezuka. [Menjangan]

Sumber: De Zeen – Foto: Katsuhisa Kida

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *