Anak Indonesia Darurat Real Food, Terlalu Gemar Makan Junk Food

Oleh: Siti Julaihah FD

Anak ultah, snack yang dibagikan ciki-cikian. Kalo nggak ciki ya sebangsa biskuit, cokolatos, minuman rasa susu, dan lain-lain. Yang jelas berupa makanan kemasan yang udah masuk pabrik, ditambahin pewarna, pengawet, pengatur keasaman, anti gumpal, dan sebagainya.

Box nasi juga minim real food (makanan betulan) dan full karbo. Nasi kuning, mie goreng, sambel goreng kentang, perkedel, oreg tempe, kadang ada nuggetnya, ada sosisnya, dan ada timun seiris. Mana real foodnya? Ya cuma timun seiris!

Di kulkas emak-emak rata-rata punya simpanan nugget, sosis, dan bakso. Tiga makanan itu seperti sudah ada capnya bahwa itu makanan anak-anak. Enak, praktis, nggak repot nyiapinnya, cocok buat orang tua yang males! Real food itu sederhananya makanan yang nggak banyak diolah, kalau dimasakpun hanya 1 kali atau 2 kali proses aja. Sedangkan nugget-sosis-bakso, sudah mengalami sekian rangkaian proses.

Nggak masalah kalo emaknya sendiri yang bikin nugget-sosis-bakso itu, jelas bahan-bahannya, pasti hati-hati saat membuatnya. Tapi jika 3 serangkai itu hasil olahan pabrik, kita patut waspada meskipun merknya terkenal. Makan ya, pake nugget! Makan ya, ada sosis! Makan ya, digorengin bakso! Itu ajakan yang sering diucapkan emak-emak pada anaknya.

Saya salut pada orang tua yang mengajak makan anaknya dengan mengenalkan real food yang banyak sayurannya dan protein yang belum kebanyakan proses. Misalnya: makan ya pakai sayur asem sama ikan kembung goreng. Makan ya pakai urab dan pindang. Makan ya pakai pecel, tempe, dan telor ceplok. Jarang anak-anak suka sayuran, paling doyan kuahnya aja, ujung-ujungnya tetap 3 serangkai lagi; nugget-sosis-bakso.

Bu Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pujiastuti, barangkali bisa kerjasama dengan menteri kesehatan bagaimana caranya agar anak-anak Indonesia sukses mengonsumsi real food. Jika ikan ya masih bentuk ikan, bukan bakso ikan yang sudah ditambah bahan additive dan dibekukan. Jika sayuran ya belum banyak perubahan warna dan tekstur.

Tapi sebaik apapun usaha pemerintah akan percuma jika orang tua kurang tegas pada anak-anaknya. “Sayuran dan ikan ini yang harus kamu makan. Kalo nggak mau nggak usah makan!” harus begitu. Tapi ya mana ada emak-emak jaman now yang setegas itu. Malah anak-anak yang mendikte orang tua, terus orang tuanya nurut aja kaya kebo dicocok hidungnya.

Sumber: Laman facebook Siti Julaiha FD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *